Penulis : Ignatius Senapatya Pandujagad Yuswondo (Ilmu Sejarah 2021)
Editor : Laurentius Aditya Pradana (Pendidikan IPS 2021)
Kamu kelahiran tahun berapa? 90 an? 2000 an? Dibawah 2010? kamu tahu gak sih kalau kamu itu adalah generasi Z atau Gen Z. Generasi yang lahir ketika teknologi sudah serba canggih. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan privilege ini. Mengapa aku bilang kecanggihan teknologi adalah sebuah privilege? Karena pandanganku tentang teknologi sebelum Gen Z terbatas, apabila mendengar cerita dari ayah atau ibu kita. Bagaimana mereka sulitnya menjalani kehidupan dengan lebih kerja keras, berbeda dengan kita yang segalanya hampir bisa dibantu oleh teknologi.
Tetapi, teknologi ini juga punya Boomerang sendiri bagi kita apabila tidak berhati-hati atau sembrono dalam menggunakannya. Contoh terbesar adalah media sosial yang sangat brutal dan gila. Bagaimana orang dengan bebas melakukan apapun, lalu mereka tunjukkan kepada dunia dan dengan etika yang dalam tanda kurung bisa diremukkan oleh rasa. Maka dari itu, kita akan membahas bagaimana sih Gen Z ini? Apakah benar stigma yang ditempelkan kepadaku, kepada anda, kepada kita adalah hal yang benar?
Aku telah menanyakan 10 orang narasumber yang memiliki rentang kelahiran dari 1998 hingga 2007. Berdasarkan jawaban-jawaban mereka aku mendapat beberapa kesimpulan yang bisa aku jabarkan.
Pertanyaan pertama adalah setuju atau tidaknya bahwa Gen Z itu pemalas. Dari 10 narasumber, 6 mengatakan benar bahwa Gen Z itu cenderung pemalas dikarenakan terlalu dimanja oleh teknologi. Di sini berarti poin dari pemalasnya Gen Z adalah karena efek Boomerang dari teknologi tadi. Kita terlalu dimanja oleh kemudahan dan selalu menginginkan hal tercepat bukan yang terbaik. Empat lainnya yang tidak setuju dengan stigma kemalasan, mengatakan bahwa tidak secara umum Gen Z itu malas, kalau bisa dihitung mungkin hanya 40% atau bukan mayoritas.
Lalu pertanyaan berikutnya tentang apakah depresi menjadi masalah dalam Gen Z. Dari 10 narasumber, 5 orang mengatakan benar bahwa Gen Z mudah depresi. Sebab, generasi ini dengan mudahnya menerima teknologi dan mungkin mentalnya belum sepenuhnya siap menerima apa yang teknologi itu bisa berikan. Dalam artian sisi buruk daripada teknologi tersebut. Beberapa narasumber pun mengatakan bahwa Gen Z ini tidak bisa mengolah EQ dengan baik ataupun mengolah kecerdasan emosionalnya dengan baik. Hal itulah yang membuat mengapa bisa dikatakan Gen Z mudah depresi. Namun, 5 orang lainnya yang membantah hal ini mengatakan bahwa itu hanyalah Gen Z yang bermental lemah. Tidak semua Gen Z memiliki mental pecundang atau orang yang mungkin terjerembab di suatu masalah dan merenunginya tanpa berusaha.
Okay, ini adalah pertanyaan terakhir dan yang mungkin paling relate dengan kehidupan orang-orang generasi sekarang, yaitu overthinking. Mungkin kalian salah satu daripada orang-orang yang memiliki masalah seperti ini termasuk saya sendiri. Yes, overthinking adalah sebuah momok hampir setiap remaja maupun remaja dewasa saat ini. Bagaimana orang terlalu memikirkan masa depannya hingga menjadi sebuah pikiran yang kosong dan tidak berarti dan hanya menyebabkan penambahan beban otak. Hal tersebut diperkuat dengan 10 dari 10 narasumber menyetujuinya.
Gimana sobat? Apakah kalian menyetujui stigma yang ditempelkan masyarakat terhadap Gen Z hari ini?. Atau kah kalian menolak dengan keras tulisan saya karena tidak setuju?. Marilah kita menjadi Gen Z yang bagus, maju, menarik, hebat yang di masa depan akan memimpin dan menjalankan pilar-pilar kehidupan di negeri ini.
Ya, tulisan ini juga sebagai pengingat bagi aku sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan memang, data yang aku terima tidak mewakilkan semua Gen Z, tetapi hanya sampel dari rentang tahun kelahiran. Walaupun demikian, menurutku cukup sedikit menjawab bagaimana pandangan Gen Z terhadap dirinya sendiri. Bagaimana dengan kalian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah mendukung IKMK FIS. Salam Pergerakan!