Peristiwa Gejayan Kelabu

Penulis             : Karolina Ina Lapu (Ilmu Sejarah 2021)

Editor              : Alfonsus Maria Suryapratama (Pendidikan Sosiologi 2021) 

Source : KOMPAS.com

Tragedi Gejayan diawali dengan demonstrasi mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta. Para mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa untuk mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap kondisi ekonomi di tanah air dan menolak kembalinya Soeharto sebagai presiden. 


Para mahasiswa menolak dan tidak ingin Soeharto kembali menjadi Presiden. Para mahasiswa di Yogyakarta mengadakan referendum yang tentang kepemimpinan nasional.  Hasil dari digelarnya referendum ini menyatakan bahwa sebanyak 90-an persen mahasiswa UGM menolak Soeharto menjadi presiden lagi. Mereka tidak gentar dan mulai melakukan serangkaian aksi demonstrasi.


Aksi yang pertama yang dilakukan oleh mahasiswa adalah aksi long march yang berasal dari para mahasiswa UGM. Mereka berencana melakukan aksi tersebut dari kampus UGM sampai ke gedung DPRD Provinsi DIY yang berada di jalan Malioboro. Aksi long march ini memicu bentrokan antara aparat kepolisian dengan para mahasiswa, di mana para aparat menghalangi aksi para mahasiswa. 


Bentrokan antara aparat dan mahasiswa terjadi  selama lebih dari  satu jam dengan aksi saling lempar-lemparan batu. Setelah itu, pada keesokan harinya mahasiswa berniat melakukan kembali aksi demonstrasinya dengan tujuannya yaitu Keraton Yogyakarta. Para mahasiswa melakukan demonstrasi di Keraton Yogyakarta karena pada saat itu Sultan Hamengkubuwono X belum menyatakan dukungannya terhadap gerakan reformasi. Akan tetapi, aksi tersebut berujung saling bentrok dan saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian.


Para mahasiswa di Yogyakarta kembali melakukan aksi dengan menghadapi aparat keamanan dan terjadilah bentrok fisik tersebut pada 5 Mei 1998. Pagi harinya dilakukan kembali aksi unjuk rasa oleh beberapa kampus di Yogyakarta, seperti UGM, UNY, USD, dab UIN Sunan Kalijaga. Aksi tersebut berjalan lancar dan telah terjadi bentrokan di jalan Gejayan. Terdapat 29 mahasiswa dalam aksi tersebut yang berhasil ditangkap. 


Puncaknya kejadian ini terjadi pada 8 Mei 1988, di mana pada pukul 09.00 WIB sejumlah kampus melakukan aksi damai, seperti Institut Sains dan Teknologi Akprind, STTNAS Yogyakarta, dan UKDW. Pada siang harinya pun pada pukul 13.00 WIB, aksi di gelar kembali oleh ribuan mahasiswa di Bundaran kampus UGM dan aksi tersebut berjalan dengan lancar dan tertib. Para mahasiswa menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kondisi ekonomi bangsa, penolakan Soeharto, memprotes kenaikan harga serta mendesak agar dilakukan reformasi.


Pada sore harinya, para mahasiswa menuju UGM untuk sama-sama bergabung di Bundaran. Akan tetapi, aparat tidak mengizinkan mereka berkumpul karena ditakutkan akan terjadi demonstrasi besar-besaran. Akibat dari hal ini pada pukul 17.00 aksi bentrokan terjadi kembali antara aparat keamanan dengan para mahasiswa. 


Terjadi bentrok besar-besaran, aparat berusaha untuk membubarkan massa yang berada di Jalan Gejayan dan Jalan Kolombo. Suasana mencekam terjadi pada saat itu hingga malam hari.  Seluruh akses ditutup menuju TKP. Akibat dari aksi di Gejayan ini terdapat banyak korban yang mengalami luka-luka. Bahkan dari aksi ini salah satu mahasiswa  Universitas Sanata Dharma kehilangan nyawa.

 

Referensi

Adryamarthanino, Verelladevanka. (2021). Peristiwa Gejayan 1998. https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/30/160000279/peristiwa-gejayan-1998. Di akses Jumaat, 13 Mei 2022 pukul 09.29 WITA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah mendukung IKMK FIS. Salam Pergerakan!